
Panduan
Shuju Raiko-ji adalah sebuah kuil aliran Tendai yang terletak di kaki timur Gunung Hiei, dekat dengan Danau Biwa di Kota Otsu, Prefektur Shiga. Nama 'Shuju Raiko' sendiri berakar pada ajaran kepercayaan Tanah Suci (Jodo), yang bermakna bahwa jiwa-jiwa yang telah wafat akan disambut oleh Buddha Amida dan para Bodhisattva. Kuil ini dikenal karena nilai sejarahnya yang tinggi serta koleksi seni Buddha yang sangat berharga. Lingkungan yang tenang di kaki Gunung Hiei memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati waktu yang damai dan meditatif.
Asal-usul Shuju Raiko-ji konon berkaitan dengan Saicho, pendiri aliran Tendai. Awalnya kuil ini disebut 'Jizo Koin', namun kemudian berganti nama setelah Genshin (Keishin Soso) melakukan praktik meditasi di tempat ini dan menyaksikan penampakan Buddha Amida serta dua puluh lima Bodhisattva. Meskipun catatan sejarah sebelum era Muromachi terbatas, kuil ini telah memainkan peran penting dalam sejarah abad pertengahan.
Salah satu kisah sejarah yang menarik adalah bagaimana kuil ini selamat dari pembakaran Gunung Heki oleh Oda Nobunaga pada tahun 1571. Konon, pendeta saat itu secara rahasia memindahkan dan memakamkan jenazah Mori Kamekari, seorang jenderal kepercayaan Nobunaga, sehingga kuil ini terhindar dari kehancuran. Hal ini memungkinkan banyak harta budaya berharga tetap terjaga hingga saat ini. Selain itu, bangunan seperti aula utama (Hondo) dan aula tamu (Kyaku-den) juga memiliki nilai sejarah karena telah dibangun kembali setelah melewati berbagai bencana dan peperangan.

Daya tarik utama kuil ini adalah 'Kenpon Choshoku Rokudo-e' (15 gulungan lukisan) yang ditetapkan sebagai Harta Nasional. Lukisan dari era Kamakura ini menggambarkan enam alam (Rokudo) yang terdiri dari Neraka, Alam Kelaparan, Alam Hewan, Alam Asura, Alam Manusia, dan Alam Surga berdasarkan ajaran 'Ojo Yoshu' karya Genshin. Representasi visual ini menggambarkan siklus kelahiran kembali dan kerinduan akan Tanah Suci dengan sangat halus.
Selain itu, di aula utama (Hondo) yang merupakan Properti Budaya Penting, terdapat patung Buddha Amida, Shaka Nyorai, dan Yakushi Nyorai. Patung-patung ini berasal dari periode yang berbeda, terutama patung Shaka Nyorai dari era Kamakam yang memiliki nilai sejarah tinggi. Gerbang depan kuil juga memiliki nilai sejarah, yang konon merupakan pemindahan gerbang dari kastil Sakamoto milik Akechi Mitsuhide.
Shuju Raiko-ji menawarkan ketenangan yang berbeda di setiap musim. Karena lokasinya di kaki Gunung Hiei, Anda dapat menikmati pemandangan kuil yang menyatu dengan alam, terutama saat musim hijau segar atau musim gugur yang penuh warna. Waktu siang hari sangat cocok untuk mengamati detail lukisan Rokudo-e dan properti budaya lainnya, namun berkunjung di pagi hari juga sangat disarankan jika Anda ingin merasakan suasana meditasi yang lebih dalam dalam keheningan.

Di sini, Anda dapat merasakan pengalaman spiritual melalui seni Buddha Jepang. Mengamati lukisan Rokudo-e memungkinkan Anda memahami konsep 'dunia setelah kematian' dan 'penyelamatan' dalam pandangan religius Jepang. Menikmati keindahan arsitektur bersejarah di tengah udara segar antara Gunung Hiei dan Danau Biwa adalah pengalaman yang unik.
Area di sekitar Shuju Raiko-ji merupakan kawasan bersejarah di kaki Gunung Hiei. Dekat dengan lokasi makam Mori Kamekari, yang menarik bagi penggemar sejarah. Akses ke Danau Biwa juga mudah, sehingga Anda dapat menggabungkan kunjungan ini ke dalam rute wisata Otsu atau perjalanan menuju Kuil Enryaku-ji di Gunung Hiei.
Mohon patuhi etika dasar saat berkunjung ke kuil. Harap menjaga ketenangan di dalam bangunan dan di dekat patung Buddha. Untuk melindungi bangunan bersejarah, harap perhatikan hal berikut: