
Panduan
Saidaiji adalah kuil bersejarah yang terletak di Kota Nara, Prefektur Nara. Kuil ini didirikan atas perintah Kaisar Shotoku pada tahun 765 (Era Tenpyo-jingo). Meskipun dulunya memiliki area kuil yang sangat luas dengan banyak bangunan, saat ini yang tersisa adalah bangunan bersejarah seperti Aula Utama (Aset Budaya Penting) yang dibangun kembali pada pertengatah zaman Edo, Aisen-do (Aset Budaya Berwujud Prefektur Nara), dan Shion-do. Selain itu, Saidaiji juga dikenal sebagai kuil tempat pelaksanaan ritual 'Ocha-mori', sebuah tradisi unik yang terus dilestarikan.
Sejarah Saidaiji dapat ditarik mundur hingga era Tenpyo-jingo. Setelah sempat mengalami penurunan pada era Heian, kuil ini dibangkitkan kembali pada era Kamakura oleh Biksu Koshin dan Eison sebagai pusat ajaran 'Shingon-ritsu' yang menyatukan esoterisme (Mikkyo) dan aturan disiplin (Ritsu). Bangunan yang Anda lihat sekarang, seperti Aula Utama, Aisen-do, dan Shion-do, adalah hasil rekonstruksi dari pertengahan zaman Edo. Ritual 'Ocha-mori' yang dimulai oleh Biksu Eison juga tetap dijaga sebagai bentuk rasa syukur kepada masyarakat dan pelestarian tradisi.

Saidaiji memiliki banyak struktur dengan nilai sejarah tinggi. Aula Utama yang ditetapkan sebagai Aset Budaya Penting menunjukkan gaya arsitektur zaman Edo yang masih terjaga dengan baik. Aisen-do juga merupakan aset budaya penting di Prefektur Nara, bersama dengan Shion-do, yang menjadi bagian penting dari kompleks kuil. Selain itu, di Museum Hojokan, pengunjung dapat melihat berbagai harta karun kuil yang sangat berharga. Di dalam area kuil, tersebar berbagai bangunan bersejarah lainnya seperti Kodo yang berasal dari era Muromachi (Aset Budaya Takbenda Prefektur Nara) dan Fudo-do yang dibangun kembali pada era Edo.
Saidaiji mengadakan berbagai ritual tradisional sesuai musim. Pada bulan Januari, terdapat upacara Hatsugama Ocha-mori (15 Januari) dan Hatsukanon-ku (18 Januari). Pada bulan Maret diadakan doa penghalau kemalangan (Hatsugo Yakuyoke), April terdapat upacara Musim Semi Ocha-mori (Minggu kedua April), dan Oktober terdapat upacara Musim Gugur Ocha-mori (Minggu kedua Oktober). Pada malam 31 Desember, terdapat upacara Joya-e di mana lonceng kuil akan berdentang sekitar pukul 23:45. Momen-momen ini adalah kesempatan langka untuk merasakan langsung sejarah dan budaya panjang Saidaiji.

Salah satu ciri khas Saidaiji adalah 'Ocha-mori'. Tradisi ini berasal dari kisah Biksu Eison yang membagikan teh kepada masyarakat untuk merayakan pemulihan Saidaiji pada tahun 1239. Ritual unik ini menggunakan mangkuk teh raksasa dengan diameter lebih dari 30 cm dan berat sekitar 7 kg, melambangkan semangat 'Ichimi Wago' (persatuan dalam harmoni). Selama periode acara tertentu, Anda dapat merasakan spiritualitas tradisional Jepang dengan latar belakang arsitektur kuno yang megah.
Di sekitar Saidaiji, terdapat banyak tempat suci penting lainnya untuk menjelajahi sejarah Nara. Misalnya, rute ziarah Yamato Jusanbutsu, Saigoku Aisen 17, dan Yamato Hokubu 88 dapat dikunjungi di dekat sini. Lokasinya juga sangat strategis karena dapat diakses dengan berjalan kaki dari stasiun kereta Kintetsu, menjadikannya titik transit yang nyaman untuk tur di sekitar Nara.
Saat berkunjung ke Saidaiji, harap perhatikan hal berikut: