
Panduan
Onomichi terletak di bagian timur Prefektur Hiroshima dan merupakan kota dengan pemandangan indah yang menghadap ke Selat Onomichi. Karena topografinya yang dikelilingi oleh gunung dan laut, terbentuklah lanskap unik dengan jalanan menanjak dan gang-gang sempit yang saling berkelok. Kota ini telah diakui sebagai Warisan Jepang karena statusnya sebagai "kota miniatur dari masa abad pertengahan", di mana kuil-kuil bersejarah, budaya yang dicintai para seniman, dan arsitektur modern hidup berdampingan. Struktur kotanya sangat jelas, mulai dari area komersial di tepi laut, kawasan pedagang di dataran rendah, hingga kuil dan vila di sisi gunung, yang memberikan latar belakang sejarah yang berbeda di setiap areanya.
Sejarah Onomichi berkembang seiring dengan perdagangan melalui jalur laut. Sejak zaman dahulu, banyak pedagang berkumpul di sini melalui perdagangan transit di Selat Onomichi. Pada zaman Edo, area ini menjadi tempat berkumpulnya para bangsawan yang memiliki vila mewah yang disebut "Chaen" serta para sastrawan yang mencintai budaya dan seni. Perubahan besar terjadi pada zaman Meiji saat jalur kereta api Sanyo dibuka, yang mengubah lanskap kota. Seiring dengan pembukaan jalur kereta api, pemukiman bergaya Jepang dan campuran Barat mulai berdiri di sisi atas bukit, membentuk citra Onomichi sebagai "Kota Berbukit" yang kita kenal sekarang. Selain itu, banyaknya karya puisi dan seni yang ditinggalkan oleh para seniman yang terpesona oleh keindahan alam di sini menunjukkan kedalaman budaya Onomichi.

Onomichi memiliki banyak bangunan bersejarah dan warisan budaya. Contohnya adalah "Bank Machinaka Bunka Koryukan" yang merupakan bekas cabang Bank Sumitomo Mitsui, serta "Museum Sejarah Onomichi" yang menggunakan bekas kantor pusat Bank Onomichi untuk menunjukkan keindahan arsitektur modern. Selain itu, di Kuil Jodo terdapat "Rokuteki-an" yang melestarikan budaya teh era Azuchi-Momoyama, memberikan nuansa sejarah budaya teh dari akhir zaman Edo. Gugusan kuil di sekitar Kuil Senkoji dan Kuil Saikoku-ji, serta berbagai bangunan bersejarah yang tersebar di seluruh kota, merupakan elemen penting yang membentuk identitas kota ini.
Onomichi menampilkan wajah yang berbeda di setiap musim. Pada bulan Maret hingga April, Anda dapat menikmati pemandangan bunga sakura yang indah melalui acara perayaan sakura di Taman Senkoji. Pada bulan Mei, terdapat Festival Onomichi Minato, dan pada bulan November terdapat Festival Bettcha, yang memberikan kesempatan untuk bersentuhan langsung dengan budaya lokal. Sepanjang tahun, pada malam akhir pekan atau hari libur, Anda juga dapat melihat pemandangan derek (crane) yang diterangi lampu di pelabuhan, menciptakan suasana malam yang khas. Perubahan pemandangan melalui tanaman musiman seperti sakura atau krisan serta acara pencahayaan malam hari akan memperkaya pengalaman kunjungan Anda.

Onomichi sangat populer sebagai pusat kegiatan bersepeda. Sebagai gerbang menuju Shimanami Kaido, terdapat "Cycling Port Minato Oasis Onomichi" di sisi selatan Stasiun Onomichi, di mana Anda dapat menikmati pengalaman bersepeda modern bersama bangunan yang telah direnovasi seperti ONOMICHI U2. Anda juga dapat merasakan budaya lokal dengan berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit, mengunjungi kuil-kuil bersejarah, atau menjelajahi jalanan menanjak. Mengunjungi fasilitas budaya yang menggunakan bangunan bersejarah juga merupakan cara yang baik untuk memahami sisi budaya Onomichi secara lebih mendalam.
Di sekitar Onomichi, terdapat gugusan pulau-pulau di Laut Seto yang menawan yang terhubung melalui Shimanami Kaido. Khususnya, pulau-pulau sekitar seperti Pulau Inujima memiliki sejarah bajak laut dan budaya unik tersendiri. Mengunjungi area ini bersamaan dengan Onomichi akan membantu Anda memahami hubungan sejarah di Laut Seto secara lebih mendalam. Anda juga dapat berpindah tempat menggunakan kapal penyeberangan (ferry) untuk menikmati pemandangan tepi laut selama perjalanan.

Onomichi adalah kota dengan banyak jalan menanjak, tangga, dan gang sempit. Sangat disarankan untuk menggunakan sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki. Saat mengunjungi kuil atau fasilitas budaya, harap menjaga etika dan perilaku yang sopan.