
Panduan
Kuil Ommae yang terletak di Kota Moka, Prefektur Tochigi, adalah kuil bersejarah yang tercatat dalam dokumen klasik Enshiki. Sejak lama, masyarakat setempat telah mengenal tempat ini dengan sebutan "Omae-sama". Dewa yang dipuja di sini adalah Daikokuten (Daikoku-sama), dewa keberuntungan, beserta putranya Ebisu-sama, yang menarik banyak peziarah untuk memohon berkah hubungan (enmusubi) dan kemakmuran bisnis. Di dalam area kuil, Anda dapat menemukan keindahan arsitektur historis yang megah melalui aula utama (honden) dan aula penghormatan (haiden) yang telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Negara.
Sejarah Kuil Ommae sangatlah panjang, dengan catatan pembangunan kembali kuil pada tahun 767-770 Masehi, menandakan usia lebih dari 1500 tahun. Nama "Omae" sendiri konon berasal dari topografi wilayah yang dulunya merupakan daerah rawa "Haga-numa". Pada zaman Heian, budaya sinkretisme Shinto-Buddha sangat kuat di sini, dan pada masa pertengahan, tempat ini juga menjadi lokasi permohonan kemenangan bagi para panglima perang. Aula utama dan aula penghormatan yang dibangun pada pertengahan zaman Edo telah diakui keindahan arsitekturnya dan ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting Negara pada tahun 2018. Tradisi unik seperti festival lokal dan pelepasan ikan koi juga terus dilestarikan hingga kini.

Pusat perhatian utama adalah aula utama (honden) dan aula penghormatan (haiden) yang merupakan Properti Budaya Penting Negara. Struktur kokoh yang mempertahankan gaya arsitektur pertengahan zaman Edo ini akan memukau setiap pengunjung. Di langit-langit aula penghormatan, terdapat lukisan ikan koi yang melambangkan utusan dewa, serta ukiran halus pada aula utama. Selain itu, terdapat berbagai kuil kecil yang unik di area ini, seperti Kuil Ebisu Omae yang dijuluki "Ebisu Terbaik di Jepang", serta Ashio Yamajinja, yang dikenal sebagai "Kuil Motor" untuk memohon keselamatan berkendara bagi para pengendara roda dua.
Kuil Ommae mengadakan berbagai festival sepanjang tahun. Salah satu momen penting adalah perayaan tahunan (Reitaisai) pada tanggal 9 dan 10 November, di mana Anda dapat menyaksikan ritual tradisional seperti persembahan Kagura. Selain itu, Anda dapat merasakan nuansa musim di Jepang melalui acara seperti Hatsumode (doa pertama di tahun baru) pada 1 Januari, ritual pengusiran setan Setsubun pada 3 Februari, atau ritual menyucikan diri melalui melewati lingkaran jerami (Chinowa-kuguri) pada perayaan Nagoshi no Harae di akhir Juli. Waktu siang hari sangat ideal untuk mengamati detail arsitektur dan lukisan koi yang indah.

Kuil ini menawarkan lebih dari sekadar permohonan doa, tetapi juga kesempatan untuk merasakan budaya Jepang. Misalnya, terdapat tradisi melepaskan ikan koi sebagai simbol terkabulnya doa. Anda juga dapat membeli Goshuin (stempel suci) atau jimat (omamori). Bagi para pengendara motor, Ashio Yamajinja adalah titik penting untuk mendoakan keselamatan berkendara, di mana banyak pengendara datang untuk memberikan Ema (papan doa) atau mengikuti acara terkait. Anda dapat menikmati suasana tenang sambil mengamati struktur bangunan yang bersejarah.
Di sekitar Kota Moka, terdapat pemandangan alam dan suasana kota bersejarah yang indah. Setelah mengunjungi Kuil Ommae, Anda bisa berjalan-jalan menyusuri jalur kereta api Moka Railway atau menikmati kuliner lokal. Bagi pecinta motor, area ini juga merupakan rute touring yang populer karena jalur berkendara yang menyenangkan di sekitarnya. Ini adalah area unik di mana budaya modern (budaya motor) berpadasi dengan tradisi kuno.
Saat berkunjung, disarankan mengenakan pakaian yang sopan dan nyaman. Karena area kuil memiliki jalan setapak berbatu dan beberapa perbedaan ketinggian, sepatu yang nyaman untuk berjalan sangat dianjurkan.