
Panduan
Mitai terletak di Pulau Osaki, Kota Kulture Toyo, Prefektur Hiroshima. Kawasan ini merupakan kota pelabuhan bersejarah yang telah ada sejak zaman Edo. Sejak tahun 1994, wilayah ini ditetapkan sebagai 'Distrik Pelestarian Kelompok Bangunan Tradisional Penting'. Dahulu, Mitai memainkan peran krusial sebagai pelabuhan transit di Laut Seto untuk kapal-kapal dagang dan kapal besar (Kitamaebune) yang menunggu perubahan angin dan arus laut. Tata kota yang memanfaatkan lahan sempit dengan sistem reklamasi, gang-gang sempit yang saling terhubung, serta keberadaan rumah pedagis, kedai teh, penginapan, hingga kuil-kuil tua, memberikan sensasi seolah-olah Anda sedang melakukan perjalanan waktu ke masa Edo.
Sejarah Mitai dimulai sejak pertengahan abad ke-17. Kawasan ini berkembang pesat sebagai titik singgah untuk menunggu kondisi cuaca yang aman (menunggu angin dan pasang surut). Pada abad ke-18, dengan kemajuan jalur pelayaran Barat menuju Osaka, Mitai menjadi pelabuhan yang sangat ramai dengan kapal-kapal dagang. Pada masa Bunsei, kota ini bahkan dijuluki sebagai 'Pelabuhan Nomor Satu di Tiongoku' (wilayah ini). Selain perdagangan, Mitai juga merupakan pusat budaya yang matang, di mana budaya Haikai (puisi pendek) berkembang pesat hingga muncul istilah 'Mitai Renju'. Keberadaan kedai teh seperti 'Wakohiko-ya' di masa lalu juga menambah lapisan sejarah yang kaya pada identitas kota ini.

Seluruh kawasan ini layaknya museum terbuka. Anda dapat melihat arsitektur rumah pedagis era Edo dan dinding 'Namako' yang indah pada bangunan 'Tomita-tei' dari era Meiji. Selain itu, struktur teknik seperti jembatan batu, lentera tinggi, dinding penahan batu, dan tangga batu (gangi) masih dipertahankan sesuai aslinya. Tempat menarik lainnya meliputi Kediaman Kaneko (tempat penandatanganan Perjanjian Mitai), Kuil Manpuji dengan dinding batu dari zaman perang, serta 'Otomeza' yang merupakan bangunan bekas bioskop yang telah direstorasi. Setiap sudut menawarkan jejak kehidupan masa lalu yang nyata.
Mitai dapat dinikmati kapan saja, namun pemandangan paling indah terlihat saat cuaca cerah. Berjalan kaki di siang hari sambil merasakan angin sepoi-sepoi dari Laut Seto sangatlah menyenangkan. Namun, saat senja tiba, suasana kota menjadi jauh lebih nostalgik dan magis dengan cahaya lampu yang temaram. Perubahan suasana di setiap musim juga memberikan ekspresi yang berbeda pada bangunan-bangunan bersejarah ini.
Pengalaman terbaik di sini adalah 'jalan kaki santai' (town walking). Menjelajahi gang-gang kecil yang menyerupai labirin untuk menemukan rumah-rumah tua adalah sebuah petualangan tersendiri. Untuk pemahaman yang lebih dalam, Anda disarankan menggunakan jasa pemandu wisata lokal guna mempelajari sejarah dan kehidupan masyarakat setempat. Menjelajahi kuil dan struktur tradisional akan memberikan pengalaman spiritual dan budaya yang mendalam.
Terletak di dalam Taman Nasional Setonaikai, Mitai dikelilingi oleh pemandangan laut dan pulau-pulau yang menawan. Menjelajahi garis pantai Pulau Osaki atau melakukan cruise di sekitar pulau-pulau di Laut Seto akan melengkapi perjalanan Anda. Akses juga tersedia dari daratan utama Hiroshima maupun Kota Kure.
Sangat disarankan untuk membawa uang tunai (cash). Banyak toko kecil dan fasilitas sejarah yang hanya menerima pembayaran tunai. Kartu kredit atau pembayaran digital mungkin tidak tersedia di seluruh tempat.
Pusat informasi wisata (Mitai Kyukeijo) menyediakan layanan informasi, namun tingkat kemahiran bahasa Inggris mungkin bervariasi tergantung pada staf atau pemandu. Disarankan untuk menyiapkan informasi atau peta secara mandiri sebelumnya.
Jika ingin menggunakan jasa pemandu wisata Toyo, Anda wajib melakukan reservasi sebelumnya (idealnya satu minggu sebelum kedatangan) melalui Mitai Kyukeijo (0823-67-2278).
Karena banyak jalan berbatu, gang sempit, dan perubahan ketinggian tanah, sangat disarankan memakai sepatu yang nyaman (seperti sneakers). Jangan lupa membawa topi, payung matahari, dan air minum.
Fotografi di area jalanan diperbolehkan, namun harap selalu menjaga privasi dan tidak mengambil gambar di area pribadi atau rumah penduduk tanpa izin.
Karena merupakan kawasan pelestarian sejarah, banyak terdapat jalan berbatu, jembatan kecil, dan anak tangga. Mobilitas dengan kursi roda mungkin terbatas di beberapa area, jadi harap periksa rute Anda terlebih dahulu.
Ini adalah kawasan pemukiman yang masih hidup. Harap menjaga ketenangan saat berkunjung dan tunjukkan rasa hormat saat mengunjungi bangunan bersejarah, kuil, atau berinteraksi dengan warga lokal.