
Panduan
Festival Imari Tontenton
10 mnt bacaRingkasan & Daya Tarik
Festival Imari Tontenton adalah festival yang sangat gagah dan penuh energi yang diadakan selama 3 hari pada akhir pekan setelah perayaan Shinden-sai (19 Oktober) di Kota Imari, Prefektur Saga. Dikenal juga sebagai "Imari Kunchi", festival ini diakui sebagai salah satu dari Tiga Festival Pertengkaran Terbesar di Jepang. Ciri khas utamanya adalah "Gassen" atau pertempuran, di mana tandu (mikoshi) dan kereta (danjiri) saling bertabrakan dengan keras di berbagai titik kota. Pemandangan saat keduanya saling dorong dan berbenturan memberikan sensasi yang luar biasa bagi penonton. Nama "Tontenton" sendiri berasal dari suara ketukan berturut-turut tiga kali dari drum yang dimainkan oleh para pembawa kereta.
Latar Belakang Sejarah & Budaya
Ada beberapa teori mengenai asal-usul festival ini. Salah satu yang paling populer adalah persaingan antara Koshitsu Jinja dan Totoshima Jinja untuk memohon kesuburan tanaman dan hasil laut. Pada tahun 1829, perintah penyatuan hari perayaan oleh pejabat Arita menyulut perselisihan antara pengikut kedua kuil tersebut mengenai urutan prosesi, yang kemudian berkembang menjadi festival pertengkaran yang teratur. Selain itu, festival ini juga dianggap menggambarkan konflik pada era Nanboku-cho. Struktur antara "Mikoshi Putih/Merah" dari Koshitsu Jinja dan "Danjari" dari Totoshima Jinja mencerminkan latar belakang sejarah yang mendalam. Pada tahun 1962, kedua kuil tersebut disatukan menjadi Imari Jinja melalui reformasi sistem.
Sorotan Utama
Bagian yang paling dinanti adalah "Gassen", di mana mikoshi dan danjiri bertabrakan. Ketegangan saat para pembawa tandu menunggu kedatangan dan suara drum yang bertalu-talu menciptakan suasana yang sangat mendebarkan. Puncak festival terjadi pada sore hari tanggal 24 Oktober dengan ritual "Kawa-otoshi" di tepi Sungai Imari. Melihat mikoshi dan danjiri yang saling beradu kemudian dijatuhkan ke sungai adalah pemandangan ikonik. Jika mikoshi diangkat lebih dulu, itu menandakan panen yang melimpah, sedangkan jika danjiri yang lebih dulu, itu menandakan hasil laut yang berlimpah.
Waktu & Musim Terbaik
Festival ini diadakan selama 3 hari pada akhir pekan ketiga bulan Oktober (setelah Shinden-sai 19 Oktober). Karena diadakan pada akhir Oktober, Anda dapat menikmatinya dalam cuaca musim gugur yang sejuk. Prosesi berlangsung di siang hari, sementara suasana akan semakin panas dan intens menjelang malam hari dengan adanya pertempuran dan ritual Kawa-otoshi. Waktu sore hari sangat disarankan untuk menyaksikan puncak acara.
Aktivitas & Pengalaman
Sebagai penonton, Anda dapat menyaksikan secara dekat benturan fisik yang kuat antara mikoshi dan danjiri di tengah kota. Anda akan merasakan energi langsung dari para pembawa tandu serta suara drum yang menggelegar. Namun, karena ini adalah acara tradisional yang sangat intens, pengunjung sangat disarankan untuk tetap berada di area aman yang telah ditentukan.
Area Sekitar
Lokasi utama festival adalah di area perkotaan Imari, berpusat di sekitar kuil-kuil lokal seperti Koshitsu Jinja, Totoshima Jinja, dan Imari Jinja. Rute prosesi berubah setiap tahun tergantung pada distrik yang bertugas, jadi sangat penting untuk memeriksa informasi rute terbaru sebelum berkunjung. Kota Imari juga memiliki budaya keramik yang kuat, sehingga Anda bisa menjelajahi budaya keramik sambil menikmati festival.
Perlengkapan, Pakaian & Etika
Karena Anda akan berada di luar ruangan dalam waktu lama, gunakanlah pakaian yang nyaman dan sepatu yang mudah untuk berjalan kaki. Karena diadakan pada akhir Oktober, disarankan membawa jaket atau pakaian hangat untuk mengantisasi perubahan suhu di malam hari.
- Pembayaran: Tunai (Sangat disarankan untuk membeli makanan atau barang di sekitar area festival karena banyak pedagang kecil hanya menerima tunai).
- Bahasa: Dukungan bahasa Inggris sangat terbatas. Papan informasi umumnya menggunakan bahasa Jepang.
- Reservasi: Tidak perlu reservasi, namun disarankan datang lebih awal karena kerumunan massa yang besar.
- Fotografi: Diperbolehkan, namun harap berhati-hati dengan pergerakan massa yang sangat cepat dan jangan menghalangi jalan.
- Aksesibilitas: Karena dilakukan di jalanan kota, akses untuk kursi roda mungkin terbatas karena kerumunan dan perbedaan ketinggian jalan.
- Etika: Hormatilah ritual ini sebagai upacara suci. Tetaplah berada di area menonton yang aman demi keselamatan Anda.