
Panduan
Hase-dera adalah kuil utama dari aliran Shingon Shuzen yang terletak di Gunung Hase, Kota Sakurai, Prefektur Nara. Dikenal dengan julukan "Kuil Bunga", tempat ini menawarkan perpaduan harmonis antara keindahan alam yang berganti setiap musim dengan tradisi spiritual yang mendalam. Daya tarik utamanya adalah patung Eleven-faced Kannon (Jyuichimen Kannon) yang terbuat dari kayu, yang merupakan salah satu patung Kannon kayu terbesar di Jepang, menarik banyak peziarah karena nilai sejarahnya yang luarvez. Pengunjung dapat menikmati pemandangan yang berbeda-beda: bunga Peony di musim semi, suara gemerincing lonceng angin di musim panas, warna-warni dedaunan musim gugur, hingga suasana tenang di tengah salju pada musim dingin.
Sejarah Hase-dera bermula sejak era Jinki (724–729 M). Menurut legenda, bencana terjadi akibat sebuah pohon suci raksasa yang hanyut di Sungai Hase. Pendiri kuil, Tokudo, kemudian mengubah pohon tersebut menjadi patung Kannon untuk menenangkan bencana, yang menjadi cikal bakal pemujaan di Gunung Hase. Patung Kannon sebelas wajah yang ada saat ini telah mengalami rekonstruksi pada era Muromachi (tahun 7) dan menetapkan gaya unik yang disebut "Gaya Hase". Sosok Kannon yang memegang tongkat sutra di tangan kanan dan botol air di tangan kiri melambangkan upaya menyelamatkan makhluk hidup, sebuah bentuk unik yang tidak ditemukan di sekte lain. Aula utama (Hondo) sendiri dibangun kembali oleh Tokugawa Iemitsu pada tahun 1650, dan bangunan di sekitarnya termasuk tangga pendakian yang ikonik telah ditetapkan sebagai Properti Budaya Penting.

Fokus utama Hase-dera adalah patung kayu Eleven-faced Kannon yang menjulang setinggi lebih dari 10 meter dengan detail yang sangat halus. Selain itu, terdapat "To-ro" atau tangga beratap dengan 399 anak tangga yang menuju ke aula utama, yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur pendakian tetapi juga bagian dari lanskap sejarah yang indah. Selama periode "Pemeriksaan Khusus", pengunjung memiliki kesempatan langka untuk memasuki bagian dalam aula utama yang biasanya tertutup, bahkan dapat menyentuh kaki patung Kannon secara langsung. Keindahan musiman seperti bunga Peony di musim semi, dedaunan merah di musim gugur, serta koridor lonceng angin di musim panas menciptakan suasana spiritual yang menyatu dengan alam.
Hase-dera memiliki pesona yang berbeda di setiap musim. Pada musim semi, festival bunga Peony diadakan untuk menghiasi kuil. Di musim panas, koridor lonceng angin memberikan suasana sejuk yang menenangkan. Musim gugur adalah waktu terbaik untuk melihat gradasi warna merah dan kuning dari pepohonan. Pada musim dingin, Anda dapat melakukan ibadah dalam suasana yang sunyi di tengah salju. Untuk menghindari keramaian, disarankan datang pada pagi hari. Harap perhatikan bahwa jadwal operasional atau acara khusus mungkin berubah selama periode pemeriksaan khusus atau festival tertentu.

Pengunjung dapat merasakan budaya spiritual tradisional Jepang melalui arsitektur dan patung Buddha yang bersejarah. Pada waktu tertentu, terdapat kesempatan untuk melihat bagian dalam aula utama yang merupakan Harta Nasional, serta melihat pemaparan gulungan lukis raksasa "Mikage Daikannon". Selain itu, ritual tradisional seperti upacara persembahan bunga Peony di musim semi dan upacara lampu Kannon di musim dingin juga diselenggarakan, memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya spiritual Jepang.
Hase-dera terletak di kaki Gunung Hase yang dikelilingi oleh alam yang asri. Area di sekitar jalan menuju kuil memiliki atmosfer bersejarah yang cocok untuk berjalan santai. Lokasinya juga mudah diakses dari berbagai situs sejarah lainnya di Nara, menjadikannya bagian dari rute perjalanan sejarah Yamato-ji yang menarik.

Karena terdapat banyak tangga dan jalan menanjak, sangat disarankan untuk mengenakan sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki. Untuk tangga menuju aula utama yang berjumlah 399 anak tangga, tersedia kendaraan pengantar dari area parkir atau bagian penerimaan bagi pengunjung yang memiliki keterbatasan fisik. Pembayaran biaya masuk umumnya menggunakan uang tunai. Selain itu, dilarang mengambil foto patung Buddha atau pendeta, serta dilarang membawa drone, tripod, atau monopod demi kenyamanan pengunjung lain. Mohon menjaga ketenangan dan menghormati situs budaya sejarah ini.