
Panduan
Terletak di tengah deretan gedung pencakar langit Shinjuku, Hanazono Shrine adalah 'Pelindung Utama Shinjuku' yang telah menjaga wilayah ini sejak zaman Edo. Kontras antara bangunan kuil yang berwarna merah cerah dengan gedung-gedung tinggi modern di sekitarnya menciptakan pemandangan unik khas Tokyo. Meskipun memiliki latar belakang sejarah yang panjang, tempat ini tetap menjadi area yang menenangkan di tengah kehidupan kota modern, sehingga populer bagi penduduk lokal maupun wisatawan.
Asal-usul Hanazono Shrine dapat ditarik kembali ke masa sebelum tahun 1590, saat Tokugawa Ieyasu memasuki Edo. Konon, kuil ini berasal dari Gunung Yoshino di Yamato dan awalnya terletak sekitar 250 meter di selatan dari lokasinya yang sekarang. Nama 'Hanazono' berasal dari sejarahnya sebagai 'Hanazono Inari Shrine' karena lokasinya yang dulunya dipenuhi bunga. Setelah pemisahan Shinto dan Buddha pada era Meiji, kuil ini kemudian menyatukan Otorijinja dan menggunakan nama Hanazono Shrine seperti sekarang. Selain itu, tempat ini juga berperan penting dalam mendukung budaya lokal, termasuk sebagai pusat kegiatan seni dan budaya di masa lalu.
Pusat perhatian utama adalah bangunan utama (Honden) dan aula pemujaan (Haiden) yang berwarna merah cerah yang indah. Meskipun dibangun kembali dengan struktur beton bertulang pada tahun 1965, arsitekturnya tetap mempertahankan gaya tradisional yang disesuaikan dengan lingkungan perkotaan modern. Salah satu aset budaya penting di sini adalah patung 'Karashishi' (Singa Cina) yang merupakan warisan budaya terdaftar di Distrik Shinjuku. Selain itu, tersedia juga tempat penyucian (Chozuya) di dalam area kuil untuk ritual pembersihan tangan dan mulut sebelum berdoa.
Waktu paling meriah untuk mengunjungi Hanazono Shrine adalah saat 'Reitaisai' yang diadakan setiap bulan Mei. Sekitar tanggal 23 dan 24 Mei, Anda dapat menyaksikan pawai mikoshi yang megah dan sekitar 100 kedai makanan (yatai) yang memenuhi area. Selain itu, terdapat juga acara musiman lainnya seperti 'Tori-no-Ichi' pada bulan November dan 'Hatsumode' pada bulan Januari. Di musim gugur, pemandangan pohon ginkgo yang menguning akan menambah suasana estetis, sementara pada malam hari saat festival, cahaya lampion akan menciptakan suasana yang magis.
Selain melakukan ritual doa, Anda dapat merasakan budaya tradisional Jepang melalui berbagai acara musiman. Saat Reitaisai di bulan Mei, semangat pawai mikoshi dan suasana kedai makanan di sekitar kuil akan memberikan pengalaman festival Jepang yang autentik. Kuil ini juga sering menjadi tempat pertunjukan musik tradisional (ohayashi). Menikmati ketenangan di tengah hiruk pikuk kota merupakan momen istimewa bagi setiap pengunjung untuk merasakan spiritualitas Jepang.
Hanazono Shrine terletak di pusat area Shinjuku. Di sekitarnya terdapat pusat perbelanjaan seperti Isetan Shinjuku, taman luas Shinjuku Gyoen, serta berbagai pilihan tempat makan. Menggabungkan kunjungan ke kuil dengan jalan-jalan santai di Shinjuku atau belanja di sekitar area ini akan memberikan pengalaman wisata Tokyo yang lengkap, memadukan tradisi dan modernitas.
Disarankan mengenakan pakaian yang rapi dan sopan saat berkunjung. Saat festival berlangsung, harap menjaga ketenangan dan kenyamanan pengunjung lain. Untuk persembahan (Saisen), gunakan uang koin sebagai bentuk rasa syukur. Meskipun papan informasi dalam bahasa Inggris terbatas, tata cara dasar berdoa (dua kali membungkuk, dua kali tepuk tangan, satu kali membungkuk) sangat umum dilakukan. Saat festival, area akan sangat ramai, jadi harap alokasikan waktu lebih. Untuk dokumentasi, harap perhatikan jika ada pembatasan saat ritual suci berlangsung, dan ikuti aturan terkait konsumsi makanan di area kuil.