
Panduan
"Hadakamari" yang diadakan di Morioka Hachimangu adalah ritual "Kan-mari" tradisional yang telah diwariskan di wilayah ini sejak era pemerintahan domain. Pada sore hari tanggal 15 Januari, para pemuda mengenakan pakaian khusus untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari kemalangan, membentuk barisan suci yang berjalan menyusuri kota. Acara ini bukan sekadar festival biasa, melainkan memiliki karakteristik sebagai ritual penyucian diri yang sakral untuk memohon kepada dewa. Di tengah musim dingin Iwate yang bersalju, Anda akan menyaksikan perpaduan unik antara semangat yang membara dan tradisi yang tenang.
Acara ini memiliki sejarah panjang sejak masa pemerintahan domain di Morioka. Dahulu, tradisi serupa juga ramai dilakukan di tempat seperti Kuil Sakurayama dan Kuil Kitayama Kyojo, yang berperan memperkuat ikatan spiritual dalam masyarakat lokal. Para pemuda yang berpartisipasi melakukan persiapan seperti menyucikan diri secara fisik dan mental sebelum ritual dimulai. Ini adalah praktik budaya kuno Jepang yang didasarkan pada kepercayaan untuk menenangkan kekuatan alam dan memohon kedamaian di tengah lingkungan musim dingin yang keras.
Daya tarik utamanya adalah barisan pemuda dengan pakaian khas yang berjalan menyusuri jalanan. Peserta menggendong tali Shime di punggung, melilitkan "Kendaiwara" di pinggang, dan menggigit kertas berisi cabai di mulut. Dengan kaki telanjang dan sandal jerami (waraji), penampilan mereka sangat sederhana namun sangat tradisional. Selain itu, dalam barisan terdapat orang yang membunyikan lonceng, pembawa lampion, serta orang yang membawa tongkat kayu panjang bernama "Hasami" untuk menyucikan jalan. Langkah kaki yang lebar dan unik yang disebut "Yakko-aruki" memberikan kesan yang sangat kuat dan mengesankan bagi penonton.
Acara ini diadakan pada sore hari tanggal 15 Januari. Saat senja musim dingin, cahaya dari lampion (Takahari-chochin) akan menerangi jalanan yang gelap, menciptakan suasana yang magis sekaligus penuh tenaga. Karena diadakan pada bulan Januari, suhu udara akan sangat rendah, sehingga ritual ini berlangsung dalam kondisi lingkungan yang sangat dingin. Waktu dari sore hingga malam hari adalah saat di mana energi ritual dan cahaya lampion mencapai puncaknya.
Kegiatan ini berfokus pada menonton parade, di mana Anda dapat merasakan secara langsung suasana ritual penyucian diri yang intens. Melihat para pemuda yang menyatukan jiwa dan raga di tengah dinginnya salju adalah simbol dari budaya spiritual Jepang. Dengan mengetahui rute yang akan dilewati barisan sebelumnya, Anda dapat mengamati detail langkah kaki yang unik serta ritual penyucian menggunakan peralatan tradisional secara lebih dekat.
Area di sekitar Morioka Hachimangu adalah kawasan yang kental dengan sejarah Morioka. Selama acara berlangsung, seluruh jalanan di sekitar menjadi ruang sakral karena barisan bergerak sepanjang kurang lebih 1 km. Banyak kuil dan tempat bersejarah di sekitarnya yang dapat membantu Anda memahami latar belakang budaya dari tradisi ini.
Karena diadakan di luar ruangan pada sore hari di bulan Januari, persiapan melawan dingin sangatlah penting. Siapkan mantel tebal, sarung tangan, dan penghangat tubuh (heat pack). Kami juga menyarankan penggunaan sepatu yang nyaman karena suhu yang sangat dingin.
Acara ini adalah ritual tradisional dan tidak dipungut biaya untuk menonton. Namun, disarankan untuk menyiapkan uang tunai (Yen Jepang) jika Anda ingin membeli makanan atau minuman di sekitar lokasi.
Karena ini adalah acara lokal, penjelasan detail dalam bahasa Inggris mungkin terbatas. Disarankan untuk memeriksa peta dan alur acara sebelumnya.
Tidak diperlukan reservasi. Namun, pelaksanaan acara dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada kondisi cuaca. Harap cek informasi terbaru di hari pelaksanaan.
Anda diperbolehkan mengambil foto, namun harap menjaga agar tidak menghalangi jalannya barisan. Hindari mengambil gambar yang dapat mengganggu momen penting atau pergerakan peserta.
Karena acara dilakukan di jalan umum, akses untuk kursi roda mungkin terbatas tergantung pada kondisi permukaan jalan dan rute.
Secara tradisional, dilarang keras memotong atau menyeberangi barisan yang sedang berjalan karena dipercaya dapat "memutuskan doa/harapan". Harap menunggu hingga satu kelompok barisan lewat sepenuhnya sebelum menyeberang jalan.