
Panduan Dasar Kuliner Jepang
Apa yang terdaftar di UNESCO? Pelajari asal-usul sushi, ramen, bento, sukiyaki, tempura, dan set menu (teishoku), serta hal-hal penting seperti label alergi dan otoshi yang perlu diketahui sebelum memesan.
Banyak makanan yang Anda temui di Jepang adalah hasil adaptasi dari budaya luar. Sushi berasal dari makanan pengawet, tempura dari masakan Barat (Nanban), dan ramen bermula dari kota-kota pelabuhan. Memahami sejarahnya akan mengubah cara Anda menikmati setiap hidangan di depan mata.
Apa Itu Washoku?
Pada 4 Desember 2013, "Washoku; Tradisi Kuliner Jepang" resmi terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO. Yang terdaftar bukanlah hidangan tertentu, melainkan tradisi makan yang didasarkan pada rasa hormat terhadap alam. Jadi, bukan sushi, ramen, atau tempura secara individu yang terdaftar.
Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyebutkan empat karakteristik utama Washoku:
- Penggunaan bahan lokal yang beragam dan segar, serta teknik memasak yang menonjolkan rasa asli bahan tersebut.
- Keseimbangan nutrisi melalui struktur "Ichiju-Sansai" (satu sup, tiga lauk) dan penggunaan umami (rendah lemak hewani).
- Penggunaan estetika musim melalui penyajian dan peralatan makan.
- Hubungan dengan perayaan tahunan seperti perayaan tahun baru atau upacara menanam padi.
Berikut adalah enam hidangan yang sering Anda temui selama perjalanan, beserta asal-usul dan cara menikmatinya.
Sushi
Leluhur jauh dari sushi modern adalah "Narezushi". Ini adalah metode pengawetan ikan dengan fermentasi asam laktat bersama beras, yang sudah ada di Jepang sejak zaman Heian. Memasuki era Edo, teknik ini berkembang menjadi sushi yang lebih cepat (tanpa menunggu fermentasi lama), seperti haya-zushi, oshi-zushi, dan nigiri-zushi.
Mengenai penyebaran nigiri-zushi, Kementerian Pertanian menyebutkan tiga tokoh dari akhir era Edo (Matsuzaki Kiemon, Hanaya Yohei, dan Sakaiya Matsugoro). Tidak ada satu penemu tunggal. Pada masa itu, nigiri-zushi dijual di kedai pinggir jalan dengan jumlah nasi sekitar tiga kali lipat lebih banyak dari sekarang.
Teknik "Edomae" juga bukan sekadar menaruh ikan mentah di atas nasi. Bentuk aslinya melibatkan pengolahan bahan seperti merebus, mengukus, merendam dalam cuka, atau mencuci dengan cuka agar cocok dengan nasi yang menggunakan cuka merah (akazu). Memahami perbedaan ini akan memperkaya pengalaman Anda, baik saat makan di restoran mewah maupun di restoran sushi putar (kaiten sushi).
Ramen
Ramen adalah hidangan mi asal Tiongkok yang telah beradaptasi dengan selera Jepang. Sejak pembukaan pelabuhan, hidangan mi dari Tiongkok masuk melalui kota-kota seperti Yokohama, Kobe, Nagasaki, dan Hakodate. Salah satu catatan tertua adalah iklan "Nankin Soba" di koran Hakodate tahun 1884.
Pada tahun 1910, Ozaki Kan'ichi membuka "Rairaiken" di Asakusa. Ia mengundang 12 koki asal Tiongkok dari Chinatown Yokohama untuk menyesuaikan aroma babi agar lebih cocok dengan lidah orang Jepang. Inilah yang dianggap sebagai kedai ramen pertama di Jepang. Nama hidangan ini berubah dari Nankin Soba menjadi Shina Soba, hingga akhirnya menjadi Chuka Soba atau Ramen setelah istilah "Shina" dihindari pasca-perang.
Perlu dicatat bahwa sejarah ini disusun berdasarkan data dari Museum Ramen Shin-Yokohama, bukan dokumen resmi pemerintah. Ada juga teori lain mengenai asal-usul ramen.

Sering terdengar penjelasan bahwa "makan ramen harus dengan suara seruputan", namun tidak ada sumber resmi yang mewajibkan hal tersebut. Anda bebas makan dengan tenang atau menyeruputnya.
Bento
Mengenai Ekiben (bento stasiun), Kementerian Pertanian menyebutkan sebuah teori yang menyatakan bahwa stasiun Utsunomiya adalah tempat pertama penjualan ekiben pada tahun 1885. Bento dengan gaya Makunouchi sendiri dilaporkan mulai dijual di Stasiun Himeji pada tahun 1889.

Sukiyaki
Sukiyaki adalah hidangan yang lahir dari proses westernisasi di era Meiji. Pembukaan pelabuhan Yokohama pada 1859 dan pendirian kedutaan Inggris pada 1860 memicu permintaan daging sapi, yang kemudian melahirkan kedai "Gyunabe" sebagai simbol modernisasi. Setelah Gempa Besar Kanto 1923, bisnis ini sempat terpuruk, dan istilah "Sukiyaki" dari wilayah Kansai akhirnya menggantikan istilah "Gyunabe" dari Edo.
Cara memasaknya berbeda antara wilayah Timur dan Barat Jepang. Di Kansai, daging dipanggang terlebih dahulu sebelum memasukkan saus (warishita) dan sayuran. Di rumah tangga Kanto, saus dipanaskan terlebih dahulu, baru kemudian daging dan sayuran dimasukkan. Cara tradisional menikmatinya adalah dengan mencelupkan bahan ke dalam telur mentah yang sudah dikocok.

Tempura
Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa asal-usul tempura konon adalah hidangan Nanban-ryori seperti gorengan yang dibawa dari Portugal pada pertengahan abad ke-16. Seiring meningkatnya produksi minyak nabati pada era Edo, tempura semakin populer sebagai makanan kedai pinggir jalan.
Tempura gaya Edo menggunakan hasil laut segar setempat yang digoreng dengan minyak wijen dan disajikan segera. Cara menikmatinya beragam: dengan menambahkan parutan lobak (daikon oroshi) atau parutan jahe ke saus tentsuyu yang kaya dashi, dengan garam atau lemon, atau dijadikan Ten-don (nasi tempura).

Teishoku (Set Menu)
Bentuk dasar dari Teishoku adalah "Ichiju-Sansai". Ini terdiri dari nasi dan sup, satu hidangan utama, dua hidangan pendamping, serta acar (tsukemono). Menurut Kementerian Pertanian, kombinasi dasar nasi, sup, lauk, dan acar ini sudah terbentuk sejak akhir zaman Heian.
Ada aturan dalam penataannya: nasi diletakkan di kiri depan, sup di kanannya, hidangan utama di belakang sup, dan hidangan pendamping di belakang nasi. Meskipun penyajian di restoran mungkin berbeda, memahami pola ini akan membantu Anda memahami maksud dari penataan makanan tersebut.

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Memesan
Label Alergi Tidak Berlaku untuk Restoran
Kewajiban label alergi hanya berlaku untuk makanan olahan dalam kemasan. Restoran atau makanan siap saji (makan di tempat/bawa pulang) tidak termasuk dalam kewajiban ini. Badan Layanan Konsumen menyarankan pelaku usaha untuk memberikan informasi secara sukarela, dan menekankan dua hal kepada mereka: jangan memberi jawaban yang ambigu, dan sadari bahwa kontaminasi silang yang tidak disengaja mudah terjadi.
Saat ini ada 9 bahan yang wajib dicantumkan: udang, kepiting, kenari (walnut), gandum, soba (gandum kuda), telur, susu, kacang tanah, dan mete. Mete menjadi wajib mulai 1 April 2026 (dengan masa transisi hingga 31 Maret 2028). Kenari sudah wajib sepenuhnya sejak 1 April 2025. Selain itu, pistachio ditambahkan ke dalam daftar 20 bahan yang disarankan untuk dicantumkan pada 1 April 2026.
Jika Anda memiliki alergi berat, jangan hanya mengandalkan label. Sampaikan secara spesifik bahan yang ingin Anda hindari sebelum memesan.
Vegetarian, Vegan, dan Halal
Badan Pariwisata Jepang merilis "Panduan Keramahtamahan untuk Wisatawan Vegetarian/Vegan/Muslim" pada April 2024. Meskipun ditujukan untuk penyedia layanan, dokumen ini sangat berguna untuk memahami tantangan apa yang mungkin Anda hadapi saat makan di restoran Jepang.
Otoshi
Di Izakaya, terkadang Anda akan disajikan piring kecil yang tidak Anda pesan dan dikenakan biaya. Ini adalah tradisi yang disebut "Otoshi" atau "Tsukidashi". Tidak ada hukum yang mengatur ini. Pandangan yang umum di kalangan ahli hukum menempatkannya sebagai masalah kontrak: jika ada penjelasan di awal, maka sah; jika tidak ada penjelasan dan Anda sudah menolaknya dengan jelas, kontrak dianggap tidak terbentuk. Jika jumlahnya sangat tinggi tanpa penjelasan, hal itu dapat diperlakukan sebagai praktik pemerasan harga. Jika ingin menolak, sebaiknya menyampaikannya segera setelah Anda duduk.
Reservasi
Jika Anda tidak datang ke tempat yang sudah dipesan tanpa memberi kabar, restoran akan mengalami kerugian tempat dan bahan makanan. Jika Anda tidak bisa datang, pastikan untuk memberi kabar. Kebijakan pembatalan dan biaya pembatalan berbeda-beda di setiap tempat, jadi sebaiknya konfirmasi saat melakukan reservasi.
Penggunaan Sumpit
Kementerian Pertanian menyebutkan cara penggunaan sumpit berikut yang sebaiknya dihindari: utsuri-bashi (mengambil dari satu lauk lalu langsung berpindah ke lauk lain), mayoi-bashi (ragu-ragu menggantung sumpit di atas hidangan), sashi-bashi (menunjuk orang dengan sumpit), watashi-bashi (meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk), dan yose-bashi (menarik piring mendekat dengan sumpit). Kebiasaan tidak menancapkan sumpit di nasi juga dikenal luas, tetapi hal itu tidak dicantumkan di halaman Kementerian. Jika Anda ragu, cukup perhatikan cara orang di sekitar Anda menggunakan sumpit.
Informasi mengenai tip dapat dibaca di Etika Publik Jepang.
Nikmati Rasa dan Sejarahnya
Sumber informasi
- Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: "Washoku" terdaftar sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO
- Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: Masakan Daerah Kami (Nigirizushi, Tempura, Sukiyaki)
- Badan Layanan Konsumen: Label Alergi Makanan
- Badan Pariwisata Jepang: Panduan Keramahtamahan untuk Wisatawan Vegetarian, Vegan, dan Muslim
Pertanyaan umum
- Apakah sushi dan ramen adalah Warisan Budaya Takbenda UNESCO?
- Bukan. Yang terdaftar pada tahun 2013 adalah "Washoku; Tradisi Kuliner Jepang", yang merujuk pada kebiasaan makan berdasarkan rasa hormat terhadap alam. Bukan hidangan individu yang terdaftar.
- Apakah sebaiknya makan ramen sambil mengeluarkan suara seruputan?
- Tidak ada sumber resmi yang mewajibkan hal tersebut. Tidak masalah jika Anda menyeruputnya atau makan dengan tenang.
- Apakah label alergi wajib di restoran?
- Kewajiban label hanya berlaku untuk makanan olahan dalam kemasan. Restoran dan makanan siap saji tidak wajib. Jangan hanya mengandalkan label, sampaikan bahan spesifik yang ingin Anda hindari sebelum memesan.
- Saya disajikan piring kecil yang tidak saya pesan dan harus membayar.
- Ini adalah "Otoshi" di Izakaya. Tidak ada hukum yang mengatur ini, melainkan dianggap sebagai masalah kontrak. Jika tidak ada penjelasan sebelumnya dan Anda sudah menolaknya dengan jelas, secara umum Anda tidak wajib membayarnya. Cara paling aman adalah menyampaikannya saat Anda baru duduk.
- Apakah perlu memberi tip saat makan?
- Tidak perlu. Tidak ada budaya memberi tip di Jepang; Anda cukup membayar jumlah yang tertera pada tagihan.